Jumat, 17 Juli 2026 telah terlaksana Forkantri. Acara ini diselenggarakan sebagai wadah berbagi pengalaman, strategi untuk berdaptasi, dan tips sukses berprestasi di Asrama MAN 4 Jakarta. Pada kesempatan kali ini, dihadirkan dua narasumber utama yang merupakan pengurus Organisasi Siswa Asrama (OSA) periode 24/25, yaitu Muhammad Afif Hawwari (Koordinator Divisi Informasi dan Kerja Sama OSA 24/25) dan Najma Syarifa (Koordinator Divisi Acara OSA 24/25).

Di awal sesi, kedua narasumber membagikan kisah adaptasi awal mereka saat memasuki kehidupan asrama. Najma menceritakan pengalamannya menghadapi homesick, hingga akhirnya berhasil menyesuaikan diri dengan jadwal dan aturan asrama yang ketat. Sementara itu, Afif yang telah merasakan kehidupan pesantren merasa lebih mudah  beradaptasi, meski sempat ragu mencoba hal-hal baru. Keduanya menekankan bahwa rasa insecure dan takut gagal adalah hal yang biasa di awal, namun kunci utamanya adalah fokus pada perjuangan diri sendiri, berani menetapkan target realistis bukan sekadar mimpi serta membangun pertemanan yang saling mendukung.

Afif juga membagikan pentingnya menyusun target berjenjang, mulai dari jangka pendek (pencapaian bulanan dan eksplorasi minat), jangka menengah (pencapaian per semester/tahun), hingga jangka panjang (rencana kelulusan dan cita-cita karir). Eksplorasi penuh disarankan dilakukan sejak kelas 10 melalui berbagai kegiatan dan organisasi guna mengenali minat serta kecocokan jurusan. Mengutip prinsip utama, “Hal yang selesai adalah hal yang dimulai,” Afif mengajak peserta untuk konsisten menyelesaikan setiap komitmen yang telah diambil serta bertanggung jawab penuh atas pilihan hidupnya.

Dalam hal akademik dan strategi belajar, Najma dan Afif membagikan pengalamannya menemukan metode serta ritme belajar yang efektif, seperti memanfaatkan waktu malam untuk belajar serta aktif bertanya di kelas hingga tuntas. Menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, persiapan SNBT/UTBK disarankan dilakukan secara bertahap sejak kelas 10 melalui penguasaan materi dasar dan recall rutin, yang kemudian diintensifkan dengan fokus latihan soal beberapa bulan sebelum ujian. Terkait penanganan burnout akibat padatnya akademik dan ekstrakurikuler, Afif merekomendasikan untuk mengambil jeda sejenak, meluapkan emosi secara wajar, menepi tanpa gawai (Do Not Disturb), atau memprioritaskan pilihan agar energi tetap terjaga.

Selain akademik, para narasumber juga menyoroti pentingnya menjaga sikap (attitude) dan kebersamaan di lingkungan asrama. Peserta diimbau untuk tidak menjadi pribadi yang merugikan atau melanggar aturan, sebab ikatan persaudaraan di asrama merupakan fondasi kebersamaan yang akan sangat terasa manfaatnya setelah lulus nanti. Komunikasi yang baik, santun, dan saling menghargai harus tetap dijaga kepada teman sejawat, adik kelas, kakak kelas, siswa reguler, maupun pembina asrama demi terciptanya harmonisasi kehidupan berasrama.

Mengakhiri sesi Forkantri, Najma dan Afif menyampaikan pesan dan kesan penutup, khususnya siswa kelas 10. Mereka berpesan agar para siswa berani melangkah dan menuntaskan target yang telah dirancang oleh diri sendiri tanpa membiarkan orang lain yang menentukan arahnya. Meski di tengah perjalanan terasa sulit atau ingin menyerah, para siswa diharapkan untuk terus melangkah maju sesuai versi terbaik diri masing-masing demi menggapai cita-cita yang berharga.

Penulis : Divisi Informasi dan Kerjasama, Organisasi Santri Asrama

Silakan Hubungi Kami